MANFAAT MEMAHAMI STRUKTUR DAN FORMAT AL QUR’AN MUSHAF UTSMANI

MANFAAT MEMAHAMI STRUKTUR DAN FORMAT AL QUR’AN MUSHAF UTSMANI
Berdasarkan penjelasan singkat tentang memahami struktur dan format Al Qur’an di atas, maka dapat dinyatakan bahwa manfaat yang bisa didapat setelah memahami struktur dan format Al Qur’an Mushaf Utsmani sebagai metodologi alternatif dalam memahami Al Qur’an adalah sebagai berikut:

1. Pemahaman terhadap struktur angka bisa menjelaskan fenomena angka sebagai fenomena paling signifikan dalam kehidupan manusia dan alam semesta. Fenomena angka menjadi pintu masuk untuk mengungkap misteri kejadian yang merupakan qadha dan qadar Allah SWT. Fenomena angka bisa mengubgkap tabir misteri kehidupan yang sulit dijelaskan melalui logika tradisional. Fenomena angka merupakan pintu masuk peranan Al Qur’an sebagai ilmu medan persoalan manusia dan alam semesta. Fenomena angka bisa menjelaskan misteri fenomena huruf,tanda baca, ayat, surat, halaman, ‘ain dan juz Al Qur’an tentang persoalan manusia dan alam semesta.

2. Struktur huruf dalam susunan hirarkhis angka dan format huruf Arab dapat menjelaskan sifat, ciri dan karakteristik manusia yang penuh misteri dan akan selesai dipelajari. Pemahaman fenkmena struktur huruf Arab yang bisa dikomparasikan dengan huruf Latin Yunani dan Romawi dalam susunan hirarkhis angka dapat menggambarkan persamaan dan perbedaan manusia. Struktur huruf bisa menjadi pintu masuk untuk memahami psikologi perkembangan (Developmental Psychology), psikologi individu (Personal Psycology), psikologi tingkah laku (Behavioral Psychology) dan psikologi klinis (Clinic Psychology) maupun ilmu pengobatan ( Farmacology) Al Qur’an. (Bersambung).

3. Sub struktur tanda baca dapat memudahkan kita dalam menentukan kualitas nilai informasi tentang titik anatomi tubuh secara fisis maupun non fisis apakah diangkat, dikristalkan, ditinggikan, diganda-angkat, diganda-kristalkan, diganda-tinggikan, digandakan, dipanjangkan, dikunci atau dimatikan sesuai dengan kedudukan tanda baca terhadap huruf yang bersangkutan. Dengan memahami struktur tanda baca yang dipadukan dengan struktur huruf akan dapat membuat formulasi “tafsir struktur” atau “tafsir format” yang bisa memperkaya “tafsir konvensional bahasa verbal” sekaligus “tafsir inkonvensional bahasa non verbal” dalam suatu formulasi tafsir yang utuh dan bulat. Perpaduan kedua tafsir ini bisa memperjelas bahasa “tersurat” yang merupakan “ayat muhkamat” (jelas dan tegas) dan “ayat mutasyabihat (samar-samar) dengan bahasa “tersirat” atau “terkandung” tentang fenomena fisis dan non fisis manusia. Jika “tafsir struktur” ini bisa ditulis dan disosialisasikan secara massal bisa memudahkan pemahaman Al Qur’an sebagai kitab suci “universal” yang tidak pernah bisa diimbangi atau ditandingi kehebatannya sebagai mukjizat dengan kitab suci manapun. Kitab Zabur, Kitab Taurat, Kitab Injil sebagai sesama kitab suci agama samawi tidak bisa menandingi apalagi kitab kitab suci agama duniawi. Jika hal ini terjadi akan memudahkan pembuktian kesempurnaan Al Qur’an sebagai kitab suci terakhir yang diturunkan kepada nabi dan rasul terakhir yang diperuntukkan buat umat manusia guna mewujudkan “rahmatan lil alamin.” Penulisan tafsir struktur akan melahirkan rekord terbaru yang bisa memecahkan record jumlah volume referensi semacam ensiklopedi dengan jumlah halaman 1000 halaman per volume dan jumlahnya bisa lebih dari 1000 volume.

4. Struktur ayat yang selama ini menjadi “pusat gravitasi” pengkajian Al Qur’an dikaitkan dengan struktur angka, struktur huruf dan struktur tanda baca akan semakin dapat diperkaya penjelasan informasi keilmuannya bukan hanya sebatas “terjemah” atau “alih bahasa” dan “tafsir” atau “pemaknaan logika intelektual” saja melainkan menjadi lebih komprehensif, sistemik dan sistematik. Ayat-ayat yang terdiri dari huruf-huruf seperti “Aliif Laam Miim” atau “Aliif Laam Raa” dan sejenisnya yang umumnya ditempatkan di awal surat bisa dijelaskan makna bahasa verbalnya sehingga bisa dipahami pesannya berdasar logika struktur dan format Al Qur’an Mushaf Utsmani. Selain itu bisa memudahkan korelasi sistemik persamaan angka ayat dari surat yang berbeda menggambarkan persamaan status informasi yang bersifat memudahkan memecahkan persoalan yang sulit dipecahkan secara konvensional menggunakan logika tradisional.

5. Manfaat memahami struktur surat adalah membuka pintu masuk mengungkap tabir misteri manusia sebagai mikrokosmik dan alam semesta sebagai makrokosmik. Nama-nama surat yang berselang seling terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan beserta nama beberapa nabi serta sifat-sifat manusia maupun benda-benda kosmik alam semesta memudahkan dalam menjelaskan misteri dan teka teki manusia. Teori tabula rasa dalam psikologi dikonter dengan determinasi pola karakter yang merujuk kepada sifat-sifat semestawi dan sifat-sifat umum manusia menjadi satu kebulatan informasi psikologi personal di satu pihak dan psikologi perkembangan di lain pihak. Jumlah surat sebanyak 114 menggambarkan rute yang dilalui manusia sejak kelahirannya hingga kematiannya dengan usia maksimal 114. Istilah surat merujuk kepada “suratan takdir” setiap manusia sesuai qadha qadarnya. Istilah surat dalam Al Qur’an yang identik dengan istilah bab dalam format buku merupakan pintu masuk yang memudahkan membongkar misteri dan teka-teki tentang persamaan dan perbedaan karakter manusia. Istilah surat yang melahirkan istilah “suratan takdir” menjadi rujukan tentang sifat-sifat manusia secara umum dalam konteks persamaannya dan secara khusus kepada individu dalam konteks determinasi pola karakternya. Urut-urutan nama surat sejak surat ke 1 Al Fatikhah hingga surat ke 114 An Naas membantu memudahkan kontrol topik kehidupan manusia setiap tahun perjalanan usianya.

6. Sub struktur ‘Ain memudahkan menjelaskan kelemahan dan kekuatan serta kekurangan dan kelebihan setiap individu manusia sesuai dengan keberadaan ‘Ain sebagai “catatan kaki” tentang titik-titik anatomi manusia. Memahami struktur ‘Ain memudahkan mengidentifikasi persoalan fisis dan psikhis yang dihadapi manusia dalam konteks kondisi aktual kehidupannya. Totalitas jumlah ‘Ain menggambarkan keberadaan titik anatomi fisis berikut logika berpikir manusia dalam melihat masa lalu dan masa depannya serta bagaimana persoalan yang dihadapi dalam perjalanan hidupnya bisa dipecahkan dan dicari jalan keluarnya. Memahami struktur ‘Ain juga memudahkan pemecahan persoalan psikhis yang tidak bisa diatasi dengan psikologi serta persoalan fisis yang tidak bisa dipecahkan dengan ilmu kedokteran medis. Selain itu memahami struktur ‘Ain memudahkan penelusuran minat dan bakat berdasar potensi Ain yang ada dalam diri setiap manusia.

7. Sub struktur halaman memudahkan kita dalam melihat “isi” identitas karakter manusia sesuai isi jumlah ayat yang ada di dalamnya serta catatan kaki struktur ‘Ain yang mengikutinya. Halaman Al Qur’an Mushaf Utsmani mulai halaman 2 hingga halaman 485 yang terbagi dalam 30 Juz dimana masing-masing juz terdiri dari 16 halaman kecuali juz satu berjumlah 15 halaman dan juz 30 berjumlah 21 halaman menunjukkan informasi tentang posisi ketika “sujud” dalam shalat menghadap Ka’bah sebagai kiblat dan berdialog dengan Allah SWT. Mengetahui posisi ‘Ain dalam konteks halaman memudahkan dalam memecahkan persoalan fisis dan psikhis individu manusia dalam konteks identitas karakter menurut juznya. Jumlah ayat yang pasti dalam setiap halaman dan letak posisi tanda ‘Ain dari setiap halaman memudahkan dalam memecahkan persoalan fisis dan non fisis individu manusia dalam konteks juznya.
.

8. Struktur Juz memudahkan dalam memahami perbedaan dan persamaan manusia. Perbedaan manusia bisa dilihat dari segi fisis-kutural, sosio-ekonomis, ekonomi-politis, kapasitas intelektual, sosial budaya, kepercayaan dan relijius. Perbedaan-perbedaan itu mudah dipahami tatkala menyadari bahwa setiap agama, peradaban dan kebudayaan memberi suplemen hidup pemeluknya. Dengan demikian memudahkan pemahaman bahwa setiap individu manusia pasti beragama, beradab dan berbudaya sebagai kosmik hidupnya dan merasa nyaman berada di dalamnya. Ini memudahkan pemahaman bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, beradab dan berbudaya. Dan dalam konteks Mushaf Utsmani, manusia dibedakan ke dalam 30 jenis sesuai pembagian 30 juz Al Qur’├án. Namun di dalam perbedaan itu secara anatomis memiliki persamaan. Dari semua item persamaan itu yang membedakan adalah kadar dan intensitas pemunculannya. Manusia sama di hadapan Allah SWT dengan status sebagai khalifah di muka bumi. Di dalam persamaan dan perbedaan itulah ma usia menjadi saling membutuhkan, saling menerima dan memberi. Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial tidak ada jastifikasi mutlak kelebihan manusia atas manusia lainnya. Dari situlah naluri perlunya manusia berorganisasi, berkelompok, bekerjasama saling membutuhkan. Perbedaan menjadi pijakan membutuhkan orang lain. Perbedaan menjadi pijakan untuk memahami orang lain. Pemecahan persoalan hidup hanya bisa dilakukan jika dikerjakab bersama orang lain. Dari sikap dan pandangan ini menjadi tidak relevan jika terjadi permusuhan dan saling membunuh, karena dapat menghancurkan eksistensi manusia sebagai khalifah di atas bumi. Di sinilah pijakan terjadinya globalisasi spiritual dimana terjadi saling memahami dan membutuhkan dan mengabaikan perbedaan yang terasa nisbi, rapuh dan rentan terhadap provokasi. Jika terjadi globalisasi spiritual maka di disitulah akan terjadi pengakuan tak terbantahkan bahwa Al Qur’an adalah Kitab Suci Universal yang mampu menjelaskan perbedaan dan persamaan manusia namun sepakat dalam satu tatanan yang rahmatan lil alamin. Tatanan kasih dan rahmat untuk seluruh umat manusia serta alam semesta. *****