IBU BUTA YANG MEMALUKANKU

Stefanus Sandy,.MM ( IVAN )
IBU BUTA YANG MEMALUKANKU
Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal
sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan
kebahagiaan memiliki wajah yang tampan,
kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah,
kebahagiaan karena kepintaranku yang
dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu
yang harus aku tutupi, aku malu mempunyai
seorang ibu yang Buta! Matanya tidak ada satu.
Aku sangat malu, benar-benar
Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak
padaku, tak ada satupun yang cacat dalam hidupku
juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi
tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih
dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggallah aku anak
semata wayang yang seharusnya menjadi tulang
punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak
kuhiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan
dan keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat
makanan untuk para karyawan di sebuah rumah
jahit sederhana.
Pada suatu saat ibu datang ke sekolah untuk
menjenguk keadaanku. Karena sudah beberapa hari
aku tak pulang ke rumah dan tidak tidur di rumah.
Karena rumah kumuh itu membuatku muak,
membuatku kesempurnaan yang kumiliki manjadi
cacat. Akan kuperoleh apapun untuk menggapai
sebuah kesempurnaan itu.
Tepat di saat istirahat, Kulihat sosok wanita tua di
pintu sekolah. Bajunya pun bersahaja rapih dan
sopan. Itulah ibu ku yang mempunyai mata satu.
Dan yang selalu membuat aku malu dan yang lebih
memalukan lagi Ibu memanggilku. “Mau ngapain
ibu ke sini? Ibu datang hanya untuk
mempermalukan aku!” Bentakkan dariku membuat
diri ibuku segera bergegas pergi. Dan itulah
memang yang kuharapkan. Ibu pun
bergegas keluar dari sekolahku. Karena kehadiranya
itu aku benar-benar malu, sangat malu. Sampai
beberapa temanku berkata dan menanyakan. “Hai,
itu ibumu ya???, Ibumu matanya satu ya?” yang
menjadikanku bagai disambar petir mendapat
pertanyaan seperti itu.
Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan
mendapat beasiswa di sebuah sekolah di luar
negeri. Aku mendapatkan beasiswa yang ku incar
dan kukejar agar aku bisa segera meninggalkan
rumah kumuhku dan terutama meninggalkan ibuku
yang membuatku malu. Ternyata aku berhasil
mendapatkannya. Dengan bangga kubusungkan
dada dan aku berangkat pergi tanpa memberi tahu
Ibu karena bagiku itu tidak perlu. Aku hidup untuk
diriku sendiri. Persetan dengan Ibuku. Seorang yang
selalu mnghalangi kemajuanku.
Di Selolah itu, aku menjadi mahasiswa terpopuler
karena kepintaran dan ketampananku. Aku telah
sukses dan kemudian aku menikah dengan seorang
gadis Indonesia dan menetap di Singapura.
Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses,
sangat sukses. Tempat tinggalku sangat mewah,
aku mempunyai seorang anak laki-laki berusia tiga
tahun dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku
rela mempertaruhkan nyawaku untuk putraku itu.
10 tahun aku menetap di Singapura, belajar dan
membina rumah tangga dengan harmonis dan
sama sekali aku tak pernah memikirkan nasib
ibuku. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak
mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan
ku sekarang.
Tapi pada suatu hari kehidupanku yang sempurna
tersebut terusik, saat putraku sedang asyik bermain
di depan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita
tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan
kulihat dia adalah Ibuku, Ibuku datang ke
Singapura. Entah untuk apa dan dari mana dia
memperoleh ongkosnya. Dia datang menemuiku.
Seketika saja Ibuku ku usir. Dengan enteng aku
mengatakan: “HEY, PERGILAH KAU PENGEMIS.
KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!” Dan tanpa
membalas perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum,
“MAAF, SAYA SALAH ALAMAT”
Tanpa merasa besalah, aku masuk ke dalam
rumah.
Beberapa bulan kemudian datanglah sepucuk surat
undangan reuni dari sekolah SMA ku. Aku pun
datang untuk menghadirinya dan beralasan pada
istriku bahwa aku akan dinas ke luar negeri.
Singkat cerita, tibalah aku di kota kelahiranku. Tak
lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan
sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini.
Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku
kagum pada diriku yang sekarang ini.
Selesai Reuni entah megapa aku ingin melihat
keadaan rumahku sebelum pulang ke Sigapore. Tak
tau perasaan apa yang membuatku melangkah
untuk melihat rumah kumuh dan wanita tua itu.
Sesampainya di depan rumah itu, tak ada perasaan
sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri
sebenarnya jijik melihatnya. Dengan rasa tidak
berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk
pintu terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu
berantakan. Aku tak menemukan sosok wanita tua
di dalam rumah itu, entahlah dia ke mana, tapi
justru aku merasa lega tak bertemu dengannya.
Bergegas aku keluar dan bertemu dengan salah
satu tetangga rumahku. “Akhirnya kau datang juga.
Ibu mu telah meninggal dunia seminggu yang lalu”
“OH…”
Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulutku.
Sedikit pun tak ada rasa sedih di hatiku yang
kurasakan saat mendengar ibuku telah meninggal.
“Ini, sebelum meninggal, Ibumu memberikan surat
ini untukmu”
Setelah menyerahkan surat ia segera bergegas
pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.
Untuk anakku yang sangat Aku cintai,
Anakku yang kucintai aku tahu kau sangat
membenciku. Tapi Ibu senang sekali waktu
mendengar kabar bahwa akan ada reuni
disekolahmu.
Aku berharap agar aku bisa melihatmu sekali lagi.
karena aku yakin kau akan datang ke acara Reuni
tersebut.
Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat
dalam sehingga setiap malam Aku hanya bisa
menangis sambil memandangi fotomu satu-
satunya yang ibu punya.Ibu tak pernah lupa untuk
mendoakan kebahagiaanmu, agar kau bisa sukses
dan melihat dunia luas.
Asal kau tau saja anakku tersayang, sejujurnya
mata yang kau pakai untuk melihat dunia luas itu
salah satunya adalah mataku yang selalu
membuatmu malu.
Mataku yang kuberikan padamu waktu kau kecil.
Waktu itu kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan
yang hebat, tetapi Ayahmu meninggal, sedangkan
mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega
anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan
mata yang cacat maka aku berikan satu mataku ini
untukmu.
Sekarang aku bangga padamu karena kau bisa
meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.
Dan akupun sangat bahagia bisa melihat dunia
luas dengan mataku yang aku berikan untukmu.
Saat aku menulis surat ini, aku masih berharap
bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya, Tapi
aku rasa itu tidak mungkin, karena aku yakin maut
sudah di depan mataku.
Peluk cium dari Ibumu tercinta
Bak petir di siang bolong yang menghantam seluruh
saraf-sarafku, Aku terdiam! Baru kusadari bahwa
yang membuatku malu sebenarnya bukan ibuku,
tetapi diriku sendiri….
Salam DIAMOND
Building a Better Future Together
Stefanus Sandy H
https://www.top888.biz/

Taufik Sulaiman
Subhanallah

Siti Hadijah
Pengorbanan s’orng ibu tdk ada batas’a,i love
mom.

Raider
Ga ada otak jadi anak
Intan Katitaa Lovegood
Ih sedih x baca.a
Smoga msuk surgaa ibu itu
Amin
Novi Herlina C-luvers
Anak gila..
Sama kyk malin kundang melebihi malah gilanya tu
anak..

Isniezar Rizqie
Subhanallah

Noor Aziz Ja’far
Ijin share

Siti Markamah Ummi Rivan
Kasih ibu sepanjang masa kasih anak apnjng
jala,ya Alloh jadikan aku mnjdi ankmyg slalu
berbakti pd kedua ibuk bapakku ya robb,ammiin,rid
ho Alloh terletak pd ridho orang tua,

Uq Alkholid
Smg Allah membls keikhlasan ibu t dg jannatul
firdaus
Fauzi
Nah, itulah contoh manusia bejat, apa gak mikir
dia, coba saja kl ibunya minta dubayarin asi yg
telah dimunumnya hingga besar, apa sanggup ia
membayar dgn hartanya. Memang anak gila