Artikel Islami : FATAWA RINGKAS SEPUTAR PUASA

FATAWA RINGKAS
SEPUTAR PUASA

Bersama: Syaikhuna Abdurahman Al ‘Adeni –hafizhahullah–

bagian kesepuluh

MAKAN DAN MINUM KARENA LUPA ATAU TIDAK SENGAJA

Hukum makan, minum dan jimak di siang hari pada bulan Ramadhan?

Jawab: Makan, minum dan jimak merupakan pembatal puasa. Perkara ini telah disepakati oleh seluruh para ulama. Yang dimaksud dengan makan dan minum disini jika sampai masuk ke tenggorokan.

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” [QS. Al Baqarah: 187]

Adapun sekedar mencicipi makanan atau minuman maka hal ini tidak membatalkan puasa. Namun setelah mencicipinya hendaknya dikeluarkan dan berkumur-kumur, agar tidak ada bekas makanan atau minuman yang menempel di lidah.

.Tanya : Apakah hukum makan atau minum karena lupa di siang hari pada bulan Ramadhan?

Jawab: Tidak mengapa, tidak ada kewajiban apapun baginya, baik mengqadha maupun kafaroh. Yang wajib bagi dia adalah melanjutkan kembali puasanya. Ini adalah pendapat Jumhur ulama. Dalil mereka keumuman firman Allah:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” [QS. Al Baqarah: 286]

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab:5]

Dan juga hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

“Barangsiapa yang makan dan minum karena lupa, sedangkan ia sedang berpuasa, maka hendaklah diteruskannya puasanya itu, karena Allah telah memberinya makan dan minum.” [HR. Al Bukhari – Muslim]

Dan hadits Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku sesuatu yang dilakukan karena salah, lupa dan sesuatu yang dipaksakan kepadanya.” [HR. Ibnu Majah dan Al Baihaqi, dishahihkan Syaikh Al Albani]

Demikian pula orang yang melakukan kesalahan tanpa disengaja, seperti ketika istinsyaq ternyata air tersentak masuk ke dalam, ketika membaca Al Qur’an tiba-tiba lalat masuk ke mulutnya dan tertelan atau seseorang menyelam untuk mengambil sesuatu kemudian tiba-tiba mimun air. Semua ini dibangun diatas ketidaksengajaan, maka tidak ada kewajiban atasnya mengqadha.

WALLOHU A’LAM BISH SHOWAAB

Ditulis oleh Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 27 Syakban 1435/25 Juni 2014_di Darul Hadits Al Fiyusy_Harasahallah.

WA. FORUM KIS?
[9:33pm, 6/27/2014] ?+62 857-0547-9182?:
HUKUM BERPUASA DI HARI SYAK (YANG DIRAGUKAN)

Mendahului Ramadhan dengan bershaum sehari atau dua hari sebelumnya dengan niat shaum Ramadhan atau dalam rangka ihtiyath (kehati-hatian) adalah termasuk larangan dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdasarkan hadits Abu Hurairah :

Artinya :

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata : Janganlah mendahului Ramadhan dengan bershaum sehari atau dua hari (sebelumnya).”Muttafaq ‘alaih ([1])

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata :

“Maksudnya jangan mendahului Romadhon dengan ash-shaum yang dikerjakan dalam rangka ihtiyath (kehati-hatian) dengan niat shaum Ramadhan, karena shaum Romadhon berkaitan dengan ru’yah hilal sehingga tidak memberatkan diri. Sehingga barang siapa mendahului dengan bershaum sehari atau dua hari sebelumnya maka telah melecehkan hukum ini.”([2])

Dan berdasarkan hadits ‘Ammar bin Yasir bahwa beliau berkata :

Artinya :

“Barang siapa melakukan ash-shaum pada hari yang syak (diragukan padanya), maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam – pen).”([3])

Definisi hari Syak adalah : hari ketiga puluh dari bulan Sya’ban jika pada malam harinya tidak terlihat hilal karena terhalangi oleh mendung, atau kabut, dan yang semisalnya.

Pendapat ini adalah yang dipilih oleh para Imam yang tiga dan jumhur ulama’. Al-Imam Tirmidzi mengatakan :

“Larangan bershaum di hari syak adalah amalan (pendapat yang di pilih) para ulama dari kalangan shahabat dan tabiin, dan juga pendapat Sufyan Ats Tsauri, Al-Imam An-Nawawi, serta Ishak.”([4])

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (??????? ??????? ?????) disampaikan dengan kata sambung (????????) dimana maknyanya “yang”, dan tidak karena konteks ini menunjukkan adanya penekanan makna bahwa bershaum pda hari syak (diragukan) walaupun tingkat prosentase keraguannya kecil adalah merupakan penyebab besar jatuhnya seseorang pada penyelisihan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedangkan beliau telah menetapkan berdasarkan hukum Allah sesuai kemampuan umatnya.([5])

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membatasi larangannya sehari atau dua hari sebelum Ramadhan karena kebanyakan orang melakukan shaum secara sengaja pada dua hari ini dalam rangka ihtiyath bukan karena bertepatan dengan kebiasaannya.

Adapun kalangan madzhab Asy-Syaafi’iiyah menetapkan permulaan larangan di mulai dari hari ke-16 bulan Sya’ban atau setelah pertengan bulan Sya’ban. Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah secara marfu’ :

Artinya :

“Apabila telah masuk pertengahan Sya’ban janganlah kalian melakukan ash-shaum.”[6]

Berkata Al-Hafizh dalam Fathul Bari :

“Jumhur ulama menyatakan bolehnya shiyam sunnah setelah pertengahan bulan Sya’ban dan mereka mendhoifkan hadits di atas. Berkata Al-Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in bahwa hadits ini mungkar, sedangkan Al Baihaqi menghukumi hadits dalam masalah ini sebagai hadits dhoif dan menyatakan bahwa dibolehkannya shiyam setelah nisfi (pertengahan) Sya’ban berdasarkan hadits yang paling shohih dari jalannya Al-Ala’. Demikian pula pendapatnya At-Thohawi.” ([7])

Jumhur Ulama membolehkan ash-shaum di bulan Sya’ban berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

Artinya :

“Berkata ‘Aisyah :… saya tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bershaum pada suatu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, beliau pernah bershaum satu bulan penuh pada bulan Sya’ban dan hanya beberapa hari saja yang dilewati.”([8])

[1] HR. Al-Bukhari Kitabush Shaum hadits no.1914 dan Muslim Kitabush Shiyaam hadits no.21 – [1082], Abu Daud Kitabush Shiyaam, hadits no. 2324,2332.

[2] Fathul Baari Kitabush Shaum hadits no.1914

[3] H.R. Abu Daud Kitabush Shiyaam, bab 10, hadits no. 2331, Al-Bukhari secara muallaq Kitabush Shaum Bab ke-11 dan Al-Imam hadits yang lima secara maushul serta dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 961

[4] Lihat Taudhihul Ahkaam jilid 3 hal. 124.

[5] Taudhihul Ahkam (3/129) (hadits no. 54) secara makna

[6] Dikeluarkan oleh Ashhabussunan (Abu Daud Kitabush Shiyaam, bab 12, hadits no. 2334), dishohihkan oleh Ibnu Hibban dan selainnya (lihat Taudhihul Ahkaam 3/126), dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam shohih sunan Abi Daud no. 2337, dan shohih sunan Tirmidzi no. 738 dengan lafadh :

Apabila tersisa setengah bulan Sya’ban maka janganlah melakukan shaum.

namun hadits ini didhoifkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Ahaditsul Mu’allah no. 359, kemudian beliau berkata : “Bila sepintas melihat sanad sanad hadits ini, maka anda akan menghukumi sebagai sanad yang hasan”. Akan tetapi dalam Faidhul Qodir setelah penyebutan riwayat Al-Imam Ahmad dan Ashhabussunan dengan lafadz : ( ????? ?????????? ????????? )berkata Al-Imam Ahmad : “Riwayat ini tidak mahfudz (syaadz).” Dalam Sunan Al-Baihaqi dari jalan Abu Daud bahwa Al-Imam Ahmad berkata “Hadits ini mungkar”, berkata Ibnu Hajar : “Ibnu Ma’in meninggalkannya”.

Hadits ini juga didha’ifkan oleh : ‘Abdurrahman bin Mahdi, Abu Daud, Al-Khalili, dan selain mereka.

[7] Fathul Baari Kitabush Shaum hadits no.1914.

[8] Al-Bukhari dengan Fathul Baari, Kitabush Shaum, hadits no. 1970, Muslim hadits no. 1156 , Al-Imam An Nawawi berkata : maksud ????? ??????? ????????? ??????? (beliau pernah bershaum satu bulan penuh pada bulan Sya’ban) adalah kebanyakannya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam banyak bershaum di bulan Sya’ban-peny)

Sumber artikel http://miratsul-anbiya.net/2014/06/27/hukum-berpuasa-di-hari-syak-yang-diragukan/
?????????????
WhatsApp Salafiyyin Jogja
[9:51am, 6/29/2014] ?+62 857-0547-9182?:
SAHUR

Bersahur sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersahurlah kalian, walaupun hanya dengan seteguk air.” (Shahih at-Targhib dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar h)

Sahur memiliki beberapa keutamaan, di antaranya:

* Sahur mengandung barokah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersahurlah kalian karena sesungguhnya pada makan sahur terdapat barokah.” (Muttafaqun ‘alaihi dari sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu)

* Mendapat shalawat dari Allah dan para Malaikat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmaddari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu)

* Menyelisihi ahlul kitab. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah (pada puasa kita) ada makan sahur.” (HR. Muslim dari sahabat ‘Amr bin al ‘Ash radhiyallaahu ‘anhu)

Di antara adab makan sahur yang disebutkan dalam beberapa hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallamadalah:

* Mengakhirkan makan sahur

Berakhirnya waktu untuk makan sahur telah ditentukan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah (Al-Hadits) yaitu dengan terbitnya fajar shadiq (fajar kedua, pertanda masuknya waktu shubuh) sebagaimana firman Allahsubhaanahu wa ta’aalaa (yang artinya), “…dan makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al-Baqarah: 187)

Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, beliau radhiyallaahu ‘anhaberkata, “Sesungguhnya Bilal radhiyallaahu ‘anhu mengumandangkan adzan pada malam hari, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum radhiyallaahu ‘anhu mengumandangkan adzan, sesungguhnya dia tidak mengumandangkan adzan kecuali setelah terbit fajar.” (HR. al-Bukhari)

Mengakhirkan sahur termasuk sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga kebiasaan sebagian kaum muslimin yang bersahur jauh sebelum munculnya fajar shadiq (fajar kedua, pertanda masuknya waktu shalat shubuh) kurang sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.Sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu meriwayatkan dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallaahu ‘anhu,ia berkata, “Kami makan sahur bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau bangkit untuk melaksanakan shalat shubuh, saya (Anas bin Malik) bertanya kepadanya (Zaid), “Berapa jarak antara adzan dengan sahur?” Zaid menjawab, “Kurang lebih sepanjang bacaan lima puluh ayat.”(Muttafaqun ‘alaihi)

Yakni ayat yang dibaca tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, dan membacanya tidak terlalu cepat dan tidak pula lambat. (Lihat Fathul Bari)

* Bersahur dengan Tamr (kurma). Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik makanan sahur seorang mu’min adalah tamr (kurma).” (HR. Abu Dawud dan lainnya dari sahabat Abu Hurairahradhiyallaahu ‘anhu)

Selengkapnya :

Adab-adab Saat Berpuasa – Situs Resmi Ma’had As-Salafy – http://mahad-assalafy.com/2012/07/26/adab-adab-saat-berpuasa/