Artikel Islami : TAFSIR SURAT ALFATIHAH

TAFSIR SURAT ALFATIHAH????

(Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah)

Setiap insan punya dua kekuatan:
?Kekuatan ilmu dan daya pikir.
?Kekuatan amal dan daya kerja.

Dan kebahagiaan yang sempurna tergantung pada kesempurnaan dua kekuatan; ilmu dan amal.

Adapun kesempurnaan ilmu dan daya pikir bisa didapat dengan
-mengenal Sang Pencipta,
-nama dan sifat-Nya,
-jalan menuju kepada-Nya
-dan tahu kadar diri sendiri
-serta kekurangannya.

Dengan lima hal ini akan didapat kesempurnaan ilmu dan daya pikir. Dan orang yang paling berilmu dan cerdas adalah orang yang paling mengerti dan paham akan lima hal ini.

Adapun kekuatan amal dan daya kerja tak akan didapat kecuali dengan memperhatikan hak-hak Allah subhanahu wa taala atas hamba-Nya serta mengerjakannya dengan ikhlas, jujur, sebenar-benarnya, sebaik-baiknya, mengikuti sunah Nabi dan mengakui bahwa amalnya ini murni anugrah dari-Nya serta mengakui kurangnya dia dalam menunaikan hak-Nya.  Sehingga dia merasa malu menghadap-Nya dengan khidmat seperti. Karena dia tahu khidmat seperti ini tidak layak untuk-Nya. Bahkan dibawah dan dibawah lagi untuk bisa dikatakan layak. Dia pun tahu tak ada jalan menuju kesempurnaan dua kekuatan ini kecuali dengan meminta bantuan-Nya. Dia sangat butuh agar diberi petunjuk kepada Shiratal Mustaqim, jalannya para wali dan hamba-hamba khusus-Nya. Dia juga butuh agar tidak keluar dari jalan tersebut, yang sebabnya bisa jadi karena rusaknya kekuatan ilmu dan daya pikir sehingga terjatuh dalam kesesatan, atau bisa jadi karena rusaknya kekuatan amal dan daya kerja sehingga berhak mendapatkan murka.

Maka kesempurnaan dan kebahagian insan tidak akan sempurna kecuali dengan menghimpun seluruh perkara ini. Dan Alfatihah telah mengandung dan mengaturnya secara sempurna.

Karena firman-Nya
“Segala pujian hanya milik Allah, Rabb semesta alam * Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang * Yang Merajai hari pembalasan”

mengandung pokok yang pertama, yaitu mengenal Rabb taala, nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Dan nama-nama yang tersebut dalam ayat ini adalah pangkal semua nama-Nya yang husna (indah), yaitu nama Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman.

?Nama Allah terkandung padanya sifat Uluhiyah.

?Nama Ar-Rabb terkandung padanya sifat Rububiyah.

?Dan nama Ar-Rahman terkandung padanya sifat ihsan, dermawan dan kebajikan

Dan seluruh makna dari nama-nama-Nya kembali pada tiga nama tersebut.

Dan firman-Nya

“…hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan…”
mengandung ilmu jalan menuju kepada-Nya. Tak ada jalan menuju kepada-Nya melainkan dengan beribadah kepada-Nya semata dengan amalan yang dicintai dan diridhai-Nya. Juga tak ada jalan menuju kepada-Nya kecuali meminta tolong dalam beribadah kepada-Nya.

Dan firman-Nya
“…Tunjukilah kami Shiratal Mustaqim…”
mengandung penjelasan bahwa hamba tak memiliki jalan kebahagiaan kecuali dengan istiqamah di atas Shiratal Mustaqim. Dan tak ada keistiqamahan kecuali dengan hidayah Allah kepadanya, sebagaimana tak ada ibadah kecuali dengan pertolongan-Nya. Sehingga, tak ada keistiqamah di atas Shiratal Mustaqim kecuali dengan hidayah-Nya.

Dan firman-Nya
“…bukan jalannya orang sesat, bukan pula jalannya orang yang dimurkai…”
mengandung penjelasan dua arah yang menyimpang dari Shiratal Mustaqim. Juga penjelasan bahwa menyimpang ke salah satunya berarti menyimpang kepada kesesatan yang sebabnya adalah rusaknya ilmu dan iktikad atau menyimpang kepada kemurkaan yang sebabnya adalah rusaknya maksud dan amalan.

Maka, awal Alfatihah adalah rahmat, tengahnya adalah hidayah dan akhirnya adalah nikmat.

Dan banyak sedikitnya nikmat yang didapat seorang hamba tergantung pada banyak sedikitnya hidayah yang didapat. Dan banyak sedikitnya hidayah tergantung pada banyak sedikitnya rahmat yang didapat. Sehingga perkara seluruhnya kembali kepada nikmat dan rahmat-Nya. Dan nikmat dan rahmat adalah bagian dari konsekwensi rububiyah-Nya. Karena tidaklah Dia melainkan pasti Maha Pemberi nikmat dan rahmat. Dan hal ini mengharuskan uluhiyah-Nya. Dialah sesembahan yang hak, walaupun ada yang mengingkari dan menyimpang menjadi musyrik.

Maka barangsiapa yang merealisasikan untaian makna Alfatihah, baik secara ilmu, makrifat, amal dan keadaannya, maka dia telah sukses mendapatkan kesempurnaan dengan anugrah yang melimpah ruah. Ibadahnya pun menjadi ibadah khusus yang meninggi derajatnya dari keumuman hamba yang lain.

Allahu Musta’an.

?WhatsApp Thullab Fuyusy