Artikel Islami :SETIAP JIWA PASTI AKAN MERASAKAN KEMATIAN, HADITS AL-BARA’ BIN ‘AZIB

SETIAP JIWA PASTI AKAN MERASAKAN KEMATIAN
Bagian ke-1

HADITS AL-BARA’ BIN ‘AZIB

Seorang shahabat yang mulia, al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika kami mengiringi jenazah di pekuburan Baqi’ al-Gharqad, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menghampiri kami, kemudian beliau duduk dan kami duduk di sekitar beliau, seakan-akan di atas kepala-kepala kami ada burung yang hinggap. Ketika itu sedang digali liang lahad.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berlindung kepada Allah dari azab kubur.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seorang hamba yang beriman, apabila hendak menuju negeri akhirat dan meninggalkan dunia ini, turun kepadanya para malaikat yang seakan-akan pada wajah mereka terpancar cahaya matahari, dengan membawa kain kafan dari surga. Mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malakul Maut, sampai ia duduk di sisi kepalanya, seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.”

Lalu Rasulullah melanjutkan, “Maka keluarlah jiwa tadi, mengalir sebagaimana tetesan air yang keluar dari mulut bejana. Dan diambillah ruh tadi oleh Malakul Maut. Setelah Malakul Mautr mengambilnya, para malaikat yang lain tidak membiarkannya berada di genggaman Malakul Maut sekejap matapun, melainkan mereka segera mengambilnya dan meletakkanya di kain kafan yang mereka bawa. Dan keluar dari ruh tadi, bau harum yang mirip dengan harumnya bau misk yang paling harum yang ada di muka bumi ini.

Kemudian merekah membawanya naik ke langit. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat tersebut berkata, “Siapakah ruh yang baik ini?” Para malaikat yang membawanya mengatakan, ” Ini adalah Fulan bin Fulan.” Dengan nama yang paling baik yang ia pernah dipanggil dengannya ketika di dunia. Mereka terus membawanya hingga sampai ke langit. Lalu mereka meminta untuk dibukakan pintu langit untuk ruh tadi, maka dibuka lah baginya. Maka para malaikat penghuni langit tadi mengiringinya sampai pada langit yang setelahnya, sampai pada langit yang Allah bersemayam padanya.

Allah’Azza wa Jalla berfirman, “Tuliskanlah kitab catatan amalan hambaku di ‘Illiyin, lalu kembalikanlah ia ke bumi, karena darinya lah Aku menciptakan mereka, padanya Aku mengembalikan mereka, dan darinya Aku mengeluarkan mereka kembali ……” sampai akhir hadits.

Hadits ini adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad dan selainnya. (Lihat Syarh ath-Thahawiyah tahqiq asy-Syaikh Yasin al-Adeny hal. 543)

Seorang hamba yang beriman, apabila telah datang ajalnya, Allah ‘Azza wa Jalla akan mengutus kepadanya Malakul Maut (malaikat yang bertugas mencabut nyawa) , untuk mengambil ruh dari jasadnya. Di samping itu, Allah Ta’ala mengutus pula para malaikat ¬†berwajah putih yang akan membawa ruh tadi ke langit. Dan para malaikat ini membawa kain kafan yang berasal dari surga, karena ruh ini tempat kembalinya nanti adalah surga.

Seorang raja di dunia ini, apabila mengirim utusan kepada seseorang yang ia cintai dan ia ridhai, ia akan mengirim kepadanya seorang utusan yang bagus wajahnya, baik perangainya, indah tutur katanya, dan seterusnya dari perangai yang baik yang ada pada insan.

Ketika Allah ‘Azza wa Jalla mengirim para malaikat yang berwajah putih, bagaikan cahaya matahari, dengan membawa kain kafan dari surga, semua ini menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mencintai dan meridhai hamba tersebut.
Ketika seseorang terbaring sakit, keluarga dan orang -orang terdekatnya berusaha keras untuk kesembuhannya. Dokter yang handal, rumah sakit yang terkenal, obat yang mujarab, mereka usahakan untuk memperoleh kesembuhannya. Mereka berharap orang ini bisa kembali ke tengah-tengah mereka. Dalam keadaan mereka tidak mengetahui hakikat keadaannya. Mereka tidak menyadari jika Malakul Maut telah duduk di sisi kepala orang yang mereka cintai.

“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (QS. al-Waqi’ah:85)

Sakaratul maut, keadaan yang sangat dahsyat yang menimpa seorang hamba. Coba kita bayangkan, ketika kematian memisahkan seorang insan, dengan orang-orang yang dicintainya. Memisahkannya dari istrinya, demikian pula orang tua, anak, saudara, kerabat, teman-teman, dan orang-orang terdekatnya.

Ketika seorang hamba terbaring sakit, menjelang kematiannya, ia sadar, wajah-wajah yang ada di sekelilingnya, yang ia mencintai mereka, dan mereka pun mencintainya. Tidaklah mungkin ia bisa melihat mereka untuk kedua kalinya di dunia ini. Hal ini semakin menambah kesedihannya. Dan kematian pasti akan menjemputnya, tanpa ia bisa menolaknya, ataupun ia tunda.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. ” (QS. Ali Imran:185)

Bayangkanlah, ketika kematian menjemputmu, dan memisahkanmu dengan orang-orang yang engkau cintai. Apakah engkau mampu untuk menolaknya? Apakah engkau mampu untuk sekedar menunda datangnya kematian, walaupun sesaat, sehingga engkau bisa menikmati dan melihat wajah-wajah yang engkau cintai untuk terakhir kali? Jawabannya, tentu tidak.

La haula wala quwwata illa billah.

BEBERAPA KISAH NYATA

Kematian kadang secara tiba-tiba, tanpa terbetik dalam benak hamba. Tanpa didahului sakit, tidak pula karena usia yang tua.

Bersambung, insya Allah.

Abdulaziz Bantul
Darul Hadits Dzammar, Yaman.