Silsilah al-Fawaid as-Salafiyyah,BERPEGANG KEPADA AS-SUNNAH dan MANHAJ SALAF,

Silsilah al-Fawaid as-Salafiyyah

DORONGAN UNTUK BERPEGANG KEPADA AS-SUNNAH dan MANHAJ SALAF,

serta TAHDZIR DARI BID’AH dan MENYIMPANG DARI MANHAJ SALAF
—————————

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan Sunnah-ku dan Sunnah para Khulafa’ Rasyidin sepeninggalku yang mendapat petunjuk. Pegang teguhlah sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah kalian dari perkara yang diada-adakan. Karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setipa bid’ah itu adalah kesesatan.” [ HR. Abu Dawud 4607, at-Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 46 ]

Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Berittiba’lah kalian dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi.” [ diriwayatkan oleh ad-Darimin dalam muqaddimah Sunan-nya ]

Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Bersikaplah kalian sebagaimana kaum tersebut (yakni para shahabat) bersikap. Karena sesungguhnya mereka bersikap berdasarkan ilmu. Berdasarkan pandangan yang sangat tajam mereka menahan diri, dan sebenarnya untuk menyingkap (detail-detail permasalahan yang dimunculkan) mereka lebih mampu, dan terhadap keutamaan – kalau seandainya  ada – pada permasalahan tersebut mereka lebih berhak. Apabila kalian mengatakan, telah muncul perkara baru (bid’ah) setelah mereka, maka tidaklah membuat/memunculkan bid’ah tersebut kecuali orang-orang yang menyelisihi/menentang bimbingan mereka dan benci terhadap sunnah (jalan) mereka. Para shahabat itu telah menyifatkan (menjelaskan) agama ini dengan penjelasan yang menyembuhkan, mereka telah berbicara tentang agama ini dengan pembicaraan yang mencukupi. Jadi apa yang melebihi mereka, maka melahkan dirinya (tanpa guna), sebaliknya apa yang di bawah mereka maka itu sesuatu yang kurang. Telah ada kaum yang kurang dari mereka, sehingga kaum itu pun jatuh pada sikap jafa’ (tidak berpegang kepada prinsip yang benar). Ada pula kaum yang melebih mereka, sehingga kaum itu pun jatuh pada sikap ekstrim (dalam beragama). Sesungguhnya mereka (para shahabat itu) berada di antara dua sikap tersebut, benar-benar di atas petunjuk yang lurus.” [ diriwayatkan oleh Abu Dawud 4612, al-Ajurri dalam asy-Syari’ah hal. 221-222 ]

al-Imam Abu ‘Amr al-Auza’i rahimahullah berkata, “Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak para Salaf, meskipun orang-orang menolakmu. Berhati-hati dan waspadalah kamu dari pikiran/pendapat para tokoh, meskipun mereka menghiasinya dengan kata-kata yang indah.” [ diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syari’ah hal. 58 ]

Silsilah Fawaid Aqidah

asy-Syaikh ‘Abdullah azh-Zhafiri

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Katakan (kepada mereka wahai Muhammad), ‘Kemarilah kalian, aku bacakan kepada kalian apa yang diharamkan atas kalian oleh Rabb kalian, yaitu Janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”
hingga firman Allah,

“Inilah jalan-Ku yang lurus, ikutilah jalan tersebut. dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan (lain), karena itu akan menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya.” (al-An’am : 151-153)

Pada ayat ini ada beberapa faidah,

Diharamkannya membunuh anak-anak. Masuk dalam larangan ini adalah pembatasan keturunan atau aborsi; dengan alasan takut miskin, atau karena tinjauan ekonomi.

Bahwa yang sangat banyak memberikan rizki itu hanya Allah – ‘Azza wa Jalla – . Adapun usaha manusia, hanyalah sebab semata.

Wajib menjauhi sebab-sebab yang mengantarkan kepada perbuatan kekejian, dan jauh dari melakukannya.

Diharamkannya membunuh jiwa yang terlindungi, kecuali dengan tiga sebab saja.

Akal yang sehat, dan fitrah yang lurus, akan mengingkari dari keharaman-keharaman yang dijelaskan di ayat ini. Terlebih lagi syari’at.

Wajib menjaga harta anak yatim, dan tidak boleh mengotak-atiknya. Kecuali dengan cara yang padanya terdapat mashlahah untuk harta tersebut.

Apabila anak yatim telah mencapai usia baligh, maka wajib untuk menyerahkan harta miliknya kepadanya. Apabila sudah diuji dan diketahui secara pasti kesehatan akalnya.

Wajib untuk adil dalam takaran dan timbangan. Tidak boleh mengurangi.

Pelaksanaan kewajiban, sandarannya adalah pada kemampuannya.

Wajibnya untuk  berkata adil, walaupun terhadap diri sendiri