Lukito Adi : Kisah Seorang Tukang Sol Sepatu

By : Lukito Adi
Kerut di wajah dan tangannya tak bisa
menyembunyikan umurnya. Tapi jemarinya yang
merenta itu masih tangkas memainkan jarum, tali,
dan pisau sol. Melihat perawakannya, dugaku ia
masih berumur 50-an. “Kerja begini sudah berapa
tahun Pak?”, saya mengawali obrolan. Sambil
memandang mata saya bapak itu berujar lirih,
sejak tahun 74 … Nak. Masya Allah tahun 74?
Bahkan di tahun itu aku pun belum tahu yang
namanya gundu. Berarti sudah 40 tahun bapak ini
keliling menjajakan jasa sol sepatu. “Setiap hari
Bapak keliling seperti ini?” tanyaku penasaran.
Iya …jawabnya datar sambil menyunggingkan
senyum.
Tak terbayang sudah ratusan atau bahkan ribuan
mil dia tempuh selama 40 tahun dia menekuni
profesinya ini. Setiap hari menyusuri jalanan…istir
ahat sebentar… memainkan jarum dan benang…
berjalan lagi….dan lagi.
Itulah Pak Ade, lelaki sepuh yang hampir setiap
hari lewat di depan rumahku. Siang itu, aku
sempatkan mengobrol dengannya, sembari
membenahi sepatu olahragaku yang mulai sempal
solnya.
Ada gurat letih di wajahnya di siang yang tak terik
itu. Sementara, aku masih tak habis pikir,
bagaimana bisa 40 tahun dia menekuni profesi ini.
“Bapak gak bosan atau capek?”, tanyaku. Dia
hanya berujar lirih…saya suka pekerjaan ini. Saya
menikmatinya. Dan Insya Allah ini ibadah meski
yang saya dapat tidak seberapa. Pak Ade tak mau
memasang tarif…”Terserah, seikhlasnya”, ujarnya.
Rupiah yang aku berikan dia terima dan
hebatnya..dia selalu iringi dengan doa.
Ya.. Pak Ade sepertinya memang sosok yang
religius. Di tengah-tengah merampungkan
sepatuku, panggilan salat bergema. Dia merapikan
sejenak sepatuku yang belum rampung kemudian
izin ke mushala yang tak jauh dari rumah. Terlihat
ringan.. ringan sekali langkahnya ke mushala.
Selepas salat lama sekali dia berdiam dalam
doa… entah doa apa yang dia panjatkan.
“Kenapa Bapak tidak mencoba pekerjaan lain?””
Tidak jawabnya…saya suka pekerjaan ini. Di
sinilah Allah memberi saya rezeki karena itulah
selalu saja ada kecukupan di dalamnya. Saya
menikmatinya….dan saya tidak pernah mengeluh
karena kondisi ini. Kondisi yang mengharuskan dia
berjalan setiap hari dari pukul 8 hingga menjelang
senja…dari rumah ke rumah..dari aspal…ke
tanah, selama 40 tahun.
Terlepas dari kenapa usahanya begini-begini
saja,…itu soal lain, baginya kerja adalah pilihan.
Pilihan hidup yang dia sambut dengan sukacita
dan keikhlasan.
Entah sudah berapa langkah jadi ibadah…
Entah sudah berapa ikhlas jadi napas…
Itulah sepetik hikmah yang bisa kurenungi dari
seorang Pak Ade
Hikmah tentang mencintai pekerjaan…
Hikmah tentang orang yang tak pernah
menggerutu tentang pekerjaannya ..karena
baginya…menggerutu itu tabu…
Selamat sore

MaLa ApriLia :bagus alumni baseeeee… *ngaca*

Bagus ‘bugz’ Harianto
Andri Agus Fabianto Na-star kata kamu cuma aku
yg di dada kamu?

Bagus ‘bugz’ Harianto
MaLa ApriLia *sodorin kaca*

Bagus ‘bugz’ Harianto
Malem Mas Lulu, ampe lupa nyapa yg punya lapak

Lukito Adi
MaLa ApriLia silakan…silakan Bu….

Andri Agus Fabianto Na-star
Eh iya lupa nyapa juga sama yg punyak lapak.
Malem Mas

Lukito Adi
Ga papa..ini lapak dah lama sepi jadi ramein aja.

Dwi Rokhayatun
Jd malu sendiri baca kisah pak ade..smg beliau
selalu sht dan bahagia

Lukito Adi
Aamiin.Eh Dwi…masih di Aceh kah?

Amalia Sekar
Kereeen…. Penulisan dan deskripsnya bisa
membuat pembaca kenal dengan Pak Ade.
Kalau terbit buku kabar2i yaa.

Soehardi Tjokroprawiro Mantaffff, ijin share nich gan…

Lukito Adi Monggo Mas Soehardi Tjokroprawiro