Prof Dr Teddy Suparno, SB,MS : Bahaya mengkonsumsi Sayuran yang Mengandung Residu Insektisida

Prof Dr Teddy Suparno, SB,MS

Bahaya mengkonsumsi Sayuran yang Mengandung Residu Insektisida

Kasus matinya burung Aechmophorus occidentalis pemakan ikan atau western grebes di sekitar danau Clear Lake, California pada tahun 1959 setelah danau itu diperlakukan diklorodifenildi-kloretana (DDD).
Perlakuan DDD kedalam danau yang sangat aman bagi makluk hidup dan pada dosis sangat rendah, yaitu pada 1949, 1954 dan 1957 berturut-turut dengan dosis 1/70 ppm (ppm = part per million= perjuta bagian), 1/70 ppm dan 1/50 ppm untuk membunuh larva seranggga Chaoborus.

Imagonya sangat mengganggu pelancong atau tourist yang menginap di losmen-losmen dan mengganggu penduduk di sekitarnya. Dalam dosis 1/70 ppm DDD sudah dapat membunuh larva Chaoborus tetapi tidak membunuh atau aman terhadap ikan kecil, ikan besar dan ikan predator.

Setelah tahun 1959 dijumpai burung pemakan ikan (western grebes) banyak sekali yang mati. Menurut dokter hewan yang memeriksanya burung-burung grebes itu mati bukan
karena penyakit.

Setelah diamati semua jenis makluk hidup yang ada di dalam danau (diurutkan sesuai dengan mata rantai pada rantai makanan atau foodchain) tersebut diketahui bahwa akumulasi DDD di dalam plankton sudah 265 x 1/70 ppm, ikan kecil 500 x 1/70 ppm, ikan (edible fish) 8.500 x 1/70 ppm, ikan predator 25.000 x 1/70 ppm dan jeroan western grebes sudah mengakumulasi 80.000 x 1/70 ppm DDD.

Hal itu dapat dijelaskan secara ekologis bahwa di dalam tubuh tiap makluk hidup terjadi penumpukan (bioaccumulation) DDD dan menyebabkan perbesaran biologik (biological magnification) di dalam proses makan memakan dalam rantai makanan (Matsumura, 1976). Dalam kedokteran proses itu dinamakan keracunan kronis DDD.

Walau semula DDD diketahui sangat aman dan sangat selektif, setelah sepuluh tahun kemudian ternyata manjadi pembunuh masal.

Bagaimana dengan pakar-pakar pengendali hama kita yang menganjurkan menggunakan insektisida yang aman dan sangat selektif itu? Keracunan kronik tersebut sangat ditakuti dan menyadarkan akan lingkungan yang tercemar.

Dari banyak percobaan di laboratorium dengan menggunakan hewan percobaan diketahui bahwa keracunan insektisida kronik dapat bersifat karsinogenik (pembentukan jaringan kanker), teratogenik (kelahiran anak cacat dari ibu yang keracunan) dan mutagenik (kerusakan genetik pada generasi akan datang).

Hal ini dapat merusak kesehatan bangsa yang akan datang.
Ames dari Universitas California pada 1975 telah membuktikan bahwa ada hubungan yang erat antara bahan yang karsinogenik dan bahan yang mutagenik. Sebagian besar bahan karsinogenik juga diketahui bersifat mutagenik, dan sebaliknya bahan-bahan mutagenik yang tadinya dianggap bukan karsinogenik ternyata karsinogenik.

Teddy Suparno Tuti Wartati , Karmila Puspasari, Sitti Zubaidah DaCha, dan Liana Febliana suka ini

Tuti Wartati Mantap pak…so ” back to nature” adalah pilihan terbaik, dengan menjaga keseimbangan lingkungan, pengendalian hayati dan pestisida nabati.
Soehardi Tjokroprawiro Ya betoel Prof, ijin copas nggih, ..

Leave a Reply