Kumpulan sajak Hertadi Sudjo : Elegi Malinkundang Desember 2011

by Hertadi Sudjo on Tuesday, December 6, 2011
Adalah bundaku perempuan berlangit biru
Berbijimata mutiara biru berlaut biru
Adalah bundaku harum cendana Nusa tenggara
Wangi cengkih sedap uap kopi bius buah pala
Bule berbau keju menyabung nyawa mengarung tujuh samudra
Kate sipit putra Matahari bertarung mencuri cinta

Kini bundaku lara coklat kulit buminya luka menganga
Digaruk perutnya tumpah kandungan timah perak dan batubara
Dikukur kulitnya ditangguk emas Papua nomer satu sedunia
Mengucur minyak berserakan nikel bauksit dan tembaga

Bundaku kini gundul eboni ramin di kepala dicukur
Bangkirai Meranti Kempas ditebas, Mengkulang Terantang ditebang
Kepala bundaku berdarah darah mengepulkepul asap
Bundaku kini Drupadi compangcamping kembennya ditarik Suyudana
Ayo menabuh gending Megatruh mari menembang Maskumambang

Bunda Rorojonggrang ini putramu Si Malinkundang
Kini pendekar tanpa tanding saudagar paling ulung
Mengirim naker ke luar negeri datangkan narkotik ke mari
Melelang bangun kilat wisma memborong besi runtuhan jembatan
Membobol uang di bank menjadi cukong makelar peradilan

Gempa bumi seharihari gunung meletus terus menerus
Gelombang laut bergulungan puting beliung sambung menyambung
Banjir bergilir tanah longsor hama ulat bulu gagal panen
Pantaimu tak lagi bergaram lautmu tidak memberi ikan
Bunda Pertiwi bapa Angkasa jangan engkau bercanda
Sapimu tak berdaging, beras pera gula tanpa rasa
Maka kuselundupkan dari luar biar tak lapar
Seharusnya bunda bangga putramu Si Malinkundang berjasa

_____________________________________________________
*terinspirasi Enes Suryadi : Ode Negeriku

Hardho Sayoko Spb:
Ternyata jejak jenate bapak pembangunan yang telah menyatu dengan tanah,
masih terus menjadi momok bagi rakyat yang telah dizalimi sepanjang kekuasaannya.

Heru Emka :
Aku sungguh suka dengan sajak ini. Terima kasih sudah berbagi denganku…

Ah Marzuki :
si Malinkundang bergentayang berwajah pahlawan
bunda berajuk seraya menyeringai penuh geram
muncratlah tangis berprahara menggelegak rasa
diantara anak seribu pulau yang takjub tanpa daya
oh makkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk…………..

Nurani Soyomukti :
saya suka puisi model spt ini…

Leo Sastrawijaya :
Sistem nilai adalah bagian penting dari rupa manusia secara keseluruhan.
ketika sistem nilai seperti yg dianut malinkundang yang mengemuka pada sebuah bangsa maka wajah malingkundanglah yang nampak di sana… bukan wajah nelson mandela atau yang lainnya.

Îrwâñ Ðw :
Banyak maling di negri ini. sangat indah sajakmu Pak e

Hudi Leksono :
Duhai ibunda pertiwi
yang sedang tersedu patah hati
jangan kau kutuk si malinkundang jadi batu lagi
kutuklah dia jadi tubuh emas murni
biar tubuhnya lenyap habis digerogoti korupsi

Hardho Sayoko Spb :
Ternyata jejak jenate bapak pembangunan yang telah menyatu dengan tanah,
masih terus menjadi momok bagi rakyat yang telah dizalimi sepanjang kekuasaannya.

Ah Marzuki :
si Malinkundang bergentayang berwajah pahlawan
bunda berajuk seraya menyeringai penuh geram
muncratlah tangis berprahara menggelegak rasa
diantara anak seribu pulau yang takjub tanpa daya
oh makkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk…………..

Hudi Leksono duhai ibunda pertiwi
yang sedang tersedu patah hati
jangan kau kutuk si malinkundang jadi batu lagi
kutuklah dia jadi tubuh emas murni
biar tubuhnya lenyap habis digerogoti korupsi

hehe asyik kutemukan banyak pohon di sini cendana, bangkirai, meranti, mengkulang,terantang …
ooohhh masihkah ada atau hanya gincu slogan
menanam pohon satu milyar
yang hidup hanya tinggal semak belukar

Soehardi Tjokroprawiro
Bagus banget pakdhe… saya ijin copy & posting di www.kiathidupsehat.com

Enes Suryadi
Ya, begitulah nasib Ibu Pertiwi, Mbah Hertadi. Didurhakai anak-anaknya, Malin Kundang. Terimakasih dan salam takzimku ya, Mbah…

Malika Hasan Sungguh elegi yang bertenaga, Pak Hertadi Sudjo. Semoga selalu damai ya. Barokallah…:)

Sokanindya Pratiwi Wening
Bunda Pertiwi…. Kami anakmu Si Malinkundang ini, tetap tertawa pongah di kebodohan dan kedurhakaan kami. Kami tak cukup sumpah serapahmu, kami masih menunggu sumpah dalam tangis anak cucu kami.

Duuuuuhhhh..

Leave a Reply