Hertadi Sudjo: Surat Surat Tak Terkirim

by Hertadi Sudjo on Monday, September 12, 2011

Bapak

Lulus sekolah rakyat desa
Terus menjadi pegawai negeri
Satu waktu Bung Karno memberi instruksi
Mencabuti bibit padi yang nasinya pulen
Menggelincir sendiri saat ditelan
Ganti tanam padi IR yang cepat panen
Nasinya pera ayam saja enggan makan

Melaksanakan instruksi setengah hati
Bapak terkena sanksi pensiun dini
Beliau menangis pilu melihat petani
yang membangkang digebuki dalam bui

Waktu hari raya idul qurban
Beliau dikirim sebelah kaki kambing
Dari panitia masjid yang memotong
Santun beliau menolak penuh yakin
Masih banyak warga yang lebih miskin

Bapak maafkan kami anakanakmu
Gagal menjalankan apa yang kau teladankan

Ibu

Ampunilah ibu ini aku anakmu
Atas kelalaian dan lemahnya daya upayaku
yang kalah melawan sigapnya pisau bedah
Diabetes yang telah menjarah ragamu
Belum seujung jarumpun aku mencium tapak kakimu

Pud

Bila tercium bau laut
Padamu aku terkenang
Sambal terasi Bonang lalap kemangi
Pedas gulai mangut panggang cucut
Masakanmu lezat memerah keringat
Memilin lidah mengaduk perut

Bila di pantai laut menantang
Aku benci tak pandai berenang
Aku geram pada garam
Menyedot air tubuhku kering
Persis sangrai ikan asin
Tapi kencingku disisakan manis
Semut penasaran rebut merubung
Brotowali dan metformin tidak mempan
Beberapa dokter ahli merahasiakan
Berapa lama aku kuat bertahan

Lebaran waktu yang paling tepat
Buat kau mengirim ketupat
Gulai mangut panggang cucut
Sambal pentil mangga muda
Selangit pedas kecut pasti kulahap
Nikmat anugerah Allah Maha Dahsyat

Tik

Karya sulam wajah ibu
Pola rancang desain Eggy
Pada kain sutera cina
Hasil tekun teliti telaten jemarimu
Dalam bingkai ukir kayu cendana
yang terpajang di dinding ruang tamu
Serasa ibu di tengah kita kembali
Merinding bulu kudukku dibuatnya
Bila kupandang wajah cucucucu kita
Senyum ibu terekam mata di pipi mereka
Lembut cahaya netra ibu kita
Terpantul di kelopak bunga bendul jendela

Tik sulamkan puisi ini di sehelai sapu tangan
Dan bagikan ke semua saudara
Agar selalu ingat dan mendoakan ibu
Serta bangga atas sulamanmu
Ihik … hik … hik juga puisiku

Rin

Jemu aku menunggu
Tak kunjung sampai sampan
Dari kertas lembar puisi
yang janjimu mau kaularung
Menuju dermagaku

Apa angin bertukar arah?
Atau ombak melibas sebelum sampai ?
Seribu galau menyerbuku
Apa sampan kertas belum kau lipat?
Atau menepi ke lain dermaga?
Tetap kunanti sampan puisimu

Empat windu kemudian
Di layar fesbuk si akularik
Muncul satu puisi jawaban
Eyang Her jemari eyang Rin
Hingga kini terserang rematik
Ini pinjam tangan Fahri cucunya

Cik

Merinduimu membawa sangsai
Bidukku pecah dibelah badai
Dayungku patah sebelum pantai
Tak tergapai seroja cukuplah teratai
Mental juara yang tidak piawai
Menuju pulaumu tanpa kompas petunjuk
Ibarat mengigau sebelum mengantuk
Sepoi berhembus pucuk ilalang merunduk
Aku kerbau keberatan sebelah tanduk
Tertekuk terpuruk ke bawah kakimu ku ingin memeluk

Yok

Ingatkah kau tatkala kecil di Tlogowungu ?
Gelap malam menelusuri pematang sawah
Diserang Belanda mengungsi ke Regaloh
Dalam gendonganku kau mengaduh
“Tung … Tung” gatal kudismu minta dikukur

Lupakah kau masa sekolah di Gabus ?
Kuajari kau bagaimana harus berkelahi
Bila dinakali kawan bajumu dijadikan lap ingus
Lawanlah kalau kau benar biar musuh lebih besar
Jangan mengalah kalau kau merasa tak salah

Alhamdulillah dewasa kau masuk tentara
Bapak berpesan tentara harus memihak rakyat
Ibu wantiwanti mesti berani menolak yang bukan hak
Masmu ini bersyukur masih sempat jadi saksi
Sampai pensiun kau tak punya rumah milik pribadi

Son + Jon

Merawat kalian selagi kanakkanak
Sungguh menyengsarakan sekali gus membahagiakan
Betapa tidak kalian kembar identik dua placenta
Satu bola indah dada ibu kalian perebutkan berdua
Sebelah lagi direnggut tumor tanpa belas kasihan
Bolongbolong mirip sarang lebah tawon madu
Dan obatnya cuma olesan sarang lebah tlutur
Dan baluran telor kodok sawah dengan teratur
Kalian bocahbocah lucu maskot berharga keluarga
Masa kanak hingga remaja bertabur kisah tak terlupakan
Salah seorang tawuran kembarannya jadi sasaran gebuk lawan
Baktimu pada ibu amat sangat terpujikan
Membawa beliau terbang ke Bengkulu Manado Mataram Kupang
Membangun rumah untuk ibu paling sigap merawat saat sakit
Sesaudara bangga syukur terimakasih padamu

Yanto

Kau bungsu dari sepuluh bersaudara
Sepanjang waktu tak lekang lapuk lengket ibu
Di mana ibu berada kau lah selalu pengawalnya
Paling mengerti sedih gembira isi hati beliau
Setia menemani menjaga kebugaran jiwa raga ibu
Lebih dari jururawat kau cermat menyelia ibu mandi
Sesaudara salut memuji dan acung jempol kepadamu
Kau tak berfikir untukmu sendiri mencari isteri
Sayang kesehatanmu sendiri lemah banyak kendala
Sesaudara semua prihatin dan berdoa agar
Kau selalu tegar lebih sehat segera menemukan pendamping sulih ibu
Pelukan penuh rindu dari mas dan mbak semua untukmu

Leave a Reply