Hertadi sudjo : Balada Sri Gadis Balik Bukit

by Hertadi Sudjo on Saturday, September 10, 2011

sri gadis dusun balik bukit berkabut
anak petani gurem sekolah pun tidak
sawahnya tiga tumbak lebih sedikit
musim kemarau tanahnya retakretak
turun hujan jalanan dusun menjadi bubur

umur sembilan dilamar bapak kopral
dijadikan bini muda nomor tiga
maharnya tidak mahal padi dua kwintal
kebaya brukat kain batik domba dua
dan jam tangan lapis emas tipis buat emak
ayahnya bangga anaknya sudah laku jual

sri girang sebentar lagi jadi penganten
sore remang larilari dan menari dalam hujan
bermain semburan air bersama selusin teman sebaya
tidak tahu apa artinya jadi bini ketiga
seperti sebelumnya emak empat kali jadi janda

malam pengantin sri tak tahu harus bagaimana
dilucuti pakaiannya diam menurut suka lakinya saja
pagi harinya yang dirasa meriang sekujur badan
perih di sela pangkal tungkai dan bercak darah di seprai
semua diceritakan pada emaknya yang matahari matanya
dan ayahnya berdoa agar anaknya cepat dicerai

dua bulan lewat doa ayah sri terbukti kabul
janda kecil itu tak paham kenapa lakinya tak lagi kumpul
yang ia tahu hanya ikut kata orang tua bahwa anak
perempuan dusun adalah harta paling berharga keluarga
bukan sawah yang tandus bukan domba yang kurus

lalu datang dari kota hidung pesek tukang ojek
ayah sri minta mahar lebih mahal sembari mengejek
karena anaknya janda kopral sudah pandai bersolek
pipi merah kembang sepatu alis dicukur bulan tanggal satu
emas kawinnya motor kredit ponsel blekberi teve parabola
tukang ojek termehek pulang ke kota tak muncul lagi

tak lama berselang datang lelaki berkulit hangus
kalung emas segede rantai kapal bersorot mata licik tikus
membujuk agar sri boleh dikawin dan diboyong ke pantura
ayah dan emak setuju tidak tawar menawar mahar
silau kilau kalung gelang giwang cincin setengah kilo

hari perkawinan sri yang kedua berlangsung mewah
makanan berlimpah ruah minuman tuak tumpahtumpah
gurauan dan sumpah serapah jorok di tengah
sepi sawah ditingkah semarak riuh alunan tarling
dan goyang senggol pantat undangan yang mbeling
perempuan cekikakcekikik dan mata jejaka bertukar kerling

rumah suami baru sri luas tiga kali lapangan basket
kiri kanan dan belakang sejauh pandang sawah terbentang
tidak seperti di dusun rumah irit sawah pun sempit
di rumah sini kamar berderet sri menghuni paling ujung
di tiap pintu kamar terpampang potret perempuan pemiliknya

ternyata suami sri baik budi dan murah hati
setiap datang tamu lelaki sri diminta duduk menemani
melayani gurau canda sentil jawil dan selanjutnya
perempuan dusun itu tak pernah paham apa maksudnya
lalu lenguh lirih keluh perih seperti dulu menjadi biasa
berulang kali sri tak hendak membeber cerita pada emaknya

ayah dan emak semakin senang menerima kiriman uang
banyak syukuran dikerjakan: awal tanam, padi bunting dan panenan
meski hasilnya mengecewakan kadang puso kekeringan
ayah bangga sri kembang dusun jadi tambang emas sekarang
tetangga kiri kanan kagum heran memuji dan menggunjingkan

tamu semakin antri dan sri tetap tak tahu arti semua ini
hidup dijalani tanpa banyak tanya seperti tetangga kamar
sayang sejak lakinya membawa pulang bini baru dari seberang
tamu sri jadi berkurang pindah ke bule pirang mata elang
sri meradang baru merasa apa artinya uang
baru mengerti apa itu istilah hidung belang

ayah sri marah marah kenapa kiriman uang makin jarang
didatanginya dukun pengasihan agar suami sri tambah sayang
biar kian sering mengirim lebih banyak lagi uang
tapi sri tambah tua keriput dahinya kian kentara
tak bisa dipoles dengan maskara atau dibalur ramuan madura
hidup payah dan papa diakhiri dengan dua botol obat serangga

Leave a Reply