Rangkaian Penanganan Sampah di Indonesia

solid waste

Rangkaian Penangan Sampah di Indonesia

Proses akhir dari rangkaian penanganan sampah yang biasa dijumpai di Indonesia adalah dilaksanakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pada umumnya pemerosesan akhir sampah yang dilaksanakan di TPA adalah berupa proses landfilling (pengurugan), dan sebagian besar dilaksanakan dengan open-dumping, yang mengakibatkan permasalahan lingkungan, seperti timbulnya bau, tercemarnya air tanah, timbulnya asap, dan sebagainya. Teknologi landfilling membutuhkan lahan luas, karena memiliki kemampuan reduksi volume sampah secara terbatas, maka kebutuhan luas lahan TPA dirasakan tiap waktu meningkat sebanding dengan peningkatan jumlah sampah. Sedangkan persoalan yang dihadapi di kota-kota adalah keterbatasan lahan.

Penanganan sampah di TPA yang selama ini umum diterapkan di Indonesia yaitu dengan open dumping harus diubah secara keseluruhan. Ada berbagai masalah yang dapat ditimbulkan, yaitu :
a. Pencemaran air tanah yang disebabkan oleh lindi (leachate). Tidak adanya lapisan dasar dan tanah penutup akan menyebabkan leachate yang semakin banyak dan akan dapat mencemari air tanah.
b. Pencemaran udara akibat gas, bau dan debu. Ketiadaan tanah penutup akan menyebabkan polusi udara tidak teredam. Produksi gas yang timbul dari degradasi materi sampah akan menyebabkan bau yang tidak sedap dan juga ditambah dengan debu yang beterbangan.
c. Resiko kebakaran cukup besar. Degradasi materi organik yang terdapat dalam sampah akan menimbulkan gas yang mudah terbakar seperti metan. Tanpa penanganan yang baik gas ini dapat memicu kebakaran di TPA. Kebakaran selalu terjadi dalam lahan TPA yang menggunakan metode open dumping.
d. Berkembangnya berbagai vektor penyakit seperti tikus, lalat dan nyamuk. Berbagai vektor penyakit senang bersarang ditimbunan sampah karena merupakan sumber makanan mereka. Salah satu fungsi dari penutupan sampah dengan tanah adalah mencegah tumbuh dan berkembangbiaknya vektor penyakit tersebut.
e. Berkurangnya estetika lingkungan. Karena lahan tidak dikelola secara baik, maka dalam jangka panjang lahan tidak dapat digunakan kembali secara baik.

Mengacu pada PP 16/2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum yang didalamya juga mengatur masalah persampahan (bagian ketiga pasal 19 – pasal 22), bahwa penanganan sampah yang memadai perlu dilakukan untuk perlindungan air baku air minum, dan secara tegas dinyatakan bahwa metoda pembuangan akhir yang dilakukan adalah secara sanitary landfill untuk kota besar/metropolitan, dan controlled landfill untuk kota sedang/kecil, yang mulai berlaku pada tahun 2008. Berdasarkan hal tersebut, TPA yang selama ini telah berjalan dengan cara open dumping harus dihentikan, dan dibutuhkan rehabilitasi dan atau reklamasi, yang bertujuan untuk :
a. Mengurangi dampak yang ditimbulkan
b. Mendapatkan bahan sampah lama sebagai tanah penutup bila dilakukan penambangan dan selanjutnya dimanfaatkan kembali sebagai lahan TPA. Kompos hasil landfill mining hanya diperuntukkan untuk tanaman non-makanan.
c. Bila kapasitasnya masih memungkinkan, menyiapkan lahan tersebut agar sesuai dengan kebutuhan operasi controlled landfill atau sanitary landfill
d. Bila kapasitasnya tidak memungkinkan, lokasi ini dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pengolahan sampah
e. Memanfaatkan lahan yang sudah ditutup tersebut untuk berbagai kebutuhan lebih lanjut, seperti sarana rekreasi dsb

Sumber : NSPM – PU

Leave a Reply